Satu Tahun BBF–DJ: Janji Besar, Realisasi Tertatih, Kepercayaan Publik Diuji -->

Kategori Berita


.

Satu Tahun BBF–DJ: Janji Besar, Realisasi Tertatih, Kepercayaan Publik Diuji

22 Mar 2026
Bupati dan Wakil Bupati Dompu Nusa Tenggara Barat NTB


Dompu, NTB_Bidikinfonews.com – Satu tahun kepemimpinan Bupati Dompu Bambang Firdaus bersama Wakil Bupati Syrajudin menjadi fase krusial untuk menguji konsistensi antara janji politik dan realisasi program di lapangan.  


Hasil penelusuran menunjukkan adanya kemajuan di beberapa sektor, namun belum merata dan masih diwarnai sejumlah persoalan mendasar.


Baca juga:polemik dugaan hubungan nadirabupati


Infrastruktur dan Layanan Publik: Ada Perbaikan, Belum Menyeluruh


Pemerintah daerah mulai melakukan perbaikan pada sejumlah ruas jalan yang sebelumnya rusak. Namun, berdasarkan temuan di lapangan dan keluhan warga di beberapa kecamatan, perbaikan tersebut belum menjangkau wilayah secara merata.


Di sektor pelayanan publik, percepatan administrasi di beberapa instansi mulai terlihat. Meski demikian, disparitas kualitas layanan antar wilayah masih terjadi, terutama di daerah dengan akses terbatas.

Program Sosial: Tepat Sasaran Dipertanyakan


Program bantuan sosial bagi kelompok rentan telah digulirkan dan mendapat respons positif. Namun, investigasi menemukan adanya persoalan klasik terkait validitas data penerima. Sejumlah warga mengaku belum tersentuh bantuan, sementara indikasi ketidaktepatan sasaran masih ditemukan.


Kondisi ini menunjukkan perlunya pembaruan basis data terpadu dan pengawasan distribusi yang lebih ketat.

Sektor Unggulan: Intervensi Ada, Dampak Belum Signifikan


Di sektor pertanian dan peternakan, pemerintah telah menyalurkan bantuan serta melakukan pendampingan. Namun, dampak terhadap peningkatan kesejahteraan petani dan peternak belum signifikan secara luas.


Rencana strategis seperti pembangunan Pelabuhan Kilo dan gudang pakan dinilai berpotensi mendorong ekonomi daerah. Akan tetapi, hingga memasuki satu tahun pemerintahan, realisasi program tersebut belum menunjukkan progres fisik yang jelas.

14 Program Prioritas: Realisasi Belum Transparan


Pasangan BBF–DJ sebelumnya mengusung 14 program prioritas, mencakup reformasi birokrasi, subsidi jagung, asuransi pertanian dan nelayan, hingga digitalisasi layanan publik.


Namun, hasil penelusuran menunjukkan belum adanya laporan komprehensif dan terbuka yang memetakan capaian masing-masing program. Sejumlah program seperti subsidi pertanian, peningkatan insentif, hingga "Dompu Satu Data" belum sepenuhnya terukur progresnya oleh publik.


Ketiadaan transparansi indikator capaian ini mempersulit masyarakat dalam menilai kinerja pemerintah secara objektif.


Hambatan Birokrasi dan Realisasi Program 


Sejumlahprogram strategis dilaporkan mengalami keterlambatan. Sumber internal menyebutkan kendala teknis, proses administrasi yang berbelit, serta penyesuaian anggaran menjadi faktor utama tersendatnya realisasi.

Hal ini memperkuat indikasi bahwa reformasi birokrasi yang dijanjikan belum sepenuhnya berjalan efektif.


Gelombang Kritik Publik: Dari Aspirasi hingga Demonstrasi


Dalam satu tahun terakhir, kritik terhadap pemerintah daerah tidak hanya muncul di ruang digital, tetapi juga melalui aksi demonstrasi. Massa menyoroti lambannya realisasi program, ketimpangan pembangunan, serta minimnya transparansi kebijakan.


Situasi ini menjadi indikator bahwa ekspektasi publik terhadap pemerintahan BBF–DJ masih belum sepenuhnya terpenuhi.


Isu Sensitif: Dampak Persepsi Tanpa Kepastian

Selain persoalan kinerja, muncul pula isu dugaan persoalan pribadi yang menyeret salah satu pejabat daerah dan berkembang luas di media sosial.


Pasang iklan disini:


Dalam perspektif tata kelola pemerintahan, kekosongan informasi ini berpotensi memperluas spekulasi dan memengaruhi persepsi publik terhadap integritas kepemimpinan.


Sahrul pengamat menilai, respons cepat dan transparan menjadi kunci untuk meredam disinformasi serta menjaga kredibilitas institusi pemerintah.


"Menurut saya, ujian Konsistensi dan Transparansi satu tahun kepemimpinan BBF–DJ menunjukkan capaian awal, Namun masih bersifat parsial dan belum terdistribusi merata. Di sisi lain, persoalan klasik seperti validitas data bantuan, lambannya birokrasi, serta minimnya transparansi masih menjadi pekerjaan rumah utama.


Ke depan, pemerintah daerah dituntut tidak hanya mempercepat realisasi program, tetapi juga membuka akses informasi publik secara lebih terukur dan akuntabel.


Tanpa langkah tersebut, "Menurut saya jarak antara klaim capaian dan persepsi masyarakat berpotensi semakin melebar_yang pada akhirnya dapat memengaruhi legitimasi pemerintahan di mata publik. (Bl).