Cegah Perilaku Berisiko pada Remaja, Sinergi Orang Tua, Sekolah, dan Masyarakat Jadi Kunci -->

Kategori Berita


.

Cegah Perilaku Berisiko pada Remaja, Sinergi Orang Tua, Sekolah, dan Masyarakat Jadi Kunci

5 Agu 2026
Firmansyah, S.Psi., M.MKes. Pengamat Sosial dan Tumbuh Kembang Anak Remaja


Bidikinfonews.com | Dompu, NTB – Meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan remaja kembali mengemuka setelah beredarnya pemberitaan mengenai puluhan warga yang menjalani perawatan akibat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Kondisi tersebut menjadi pengingat penting bahwa upaya pencegahan perilaku berisiko di kalangan remaja membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.


Berdasarkan berbagai literatur kesehatan, penularan HIV dapat terjadi melalui beberapa cara, di antaranya hubungan seksual yang tidak aman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, serta penularan dari ibu kepada bayi. Karena itu, edukasi mengenai perilaku hidup sehat dan bertanggung jawab menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan.


Baca juga:tingkatkan mutu pendidikan nonformal


Data yang beredar menyebutkan terdapat sekitar 72 Orang Dengan HIV (ODHIV) yang tengah menjalani perawatan. Angka tersebut menjadi perhatian bersama agar berbagai pihak meningkatkan edukasi, pendampingan, dan pengawasan terhadap generasi muda sehingga terhindar dari perilaku yang dapat meningkatkan risiko penularan penyakit maupun masalah sosial lainnya.


Pengamat Sosial dan Tumbuh Kembang Anak Remaja, Firmansyah, S.Psi., M.MKes, menilai bahwa pencegahan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Menurutnya, keluarga, sekolah, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, tenaga pendidik, hingga lingkungan sekitar memiliki peran strategis dalam membentuk karakter remaja.


Ia menjelaskan, orang tua perlu peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti mulai menutup diri, prestasi belajar menurun, sering membolos, memiliki pergaulan yang tertutup, atau menunjukkan perubahan kebiasaan secara drastis. Namun demikian, perubahan tersebut tidak boleh langsung dijadikan dasar untuk menghakimi anak.


"Yang dibutuhkan remaja adalah komunikasi yang hangat, bukan interogasi. Orang tua perlu membangun kedekatan emosional agar anak merasa aman untuk bercerita ketika menghadapi persoalan," ujarnya.


Menurut Firmansyah, membangun hubungan yang baik dengan anak menjadi fondasi utama dalam mencegah perilaku berisiko. Orang tua dianjurkan meluangkan waktu berkualitas bersama anak, menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari, serta menetapkan aturan keluarga yang jelas disertai alasan yang dapat dipahami oleh remaja.


Selain keluarga, sekolah juga memiliki peran penting melalui pendidikan keterampilan hidup (life skills), layanan bimbingan konseling, kegiatan ekstrakurikuler, olahraga, hingga aktivitas sosial yang mampu mengembangkan potensi remaja secara positif.


Pasang iklan disini :


Ia menambahkan, lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan (bullying), pengawasan terhadap akses rokok maupun vape di sekitar sekolah, serta hadirnya guru atau konselor yang dipercaya siswa dapat menjadi faktor pelindung bagi remaja dari berbagai perilaku berisiko.


Di sisi lain, remaja juga perlu dibekali kemampuan mengendalikan diri, memahami risiko dari setiap tindakan, serta dilatih mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Literasi mengenai dampak penyalahgunaan narkoba, pornografi, balap liar, maupun perilaku seksual berisiko perlu disampaikan secara terbuka berdasarkan fakta, bukan dengan pendekatan yang menakut-nakuti.


Firmansyah juga menekankan pentingnya membangun rasa percaya diri dan tujuan hidup pada remaja. Menurutnya, anak yang memiliki cita-cita dan aktivitas positif cenderung lebih mampu menjaga diri dari pengaruh negatif lingkungan.


Apabila orang tua menemukan kesulitan dalam mendampingi anak, ia menyarankan agar tidak ragu memanfaatkan layanan profesional, seperti guru Bimbingan Konseling (BK), psikolog, maupun fasilitas layanan kesehatan yang tersedia.


"Prinsip utamanya adalah membangun koneksi terlebih dahulu sebelum melakukan koreksi. Remaja mungkin menolak aturan, tetapi mereka selalu ingin didengar, dipahami, dan dihargai," pungkasnya.


Oleh: Firmansyah, S.Psi., M.MKes. Pengamat Sosial dan Tumbuh Kembang Anak Remaja