![]() |
| Foto Ilustrasi Sppg MBG yang Roboh Menewaskan Satu orang pekerja |
Bidikinfonews.com | Dompu, NTB — Insiden robohnya atap bangunan SPPG MBG di wilayah Dototoi, Kabupaten Dompu, yang terjadi beberapa hari lalu dan menelan korban jiwa, hingga kini masih menyisakan tanda tanya di tengah publik.
Sejumlah warga dan pihak terkait mempertanyakan kelayakan konstruksi bangunan serta standar keamanan yang diterapkan di lokasi tersebut.
Baca juga:tragedi sppg dompu puting beliung
Dugaan awal mengarah pada kemungkinan lemahnya kualitas bangunan, mengingat beberapa fasilitas serupa di sekitar lokasi yang terdampak cuaca ekstrem dilaporkan tidak mengalami kerusakan berarti.
Selain itu, muncul spekulasi bahwa operasional SPPG tersebut diduga belum melalui tahapan verifikasi teknis dan survei yang memadai.
Bahkan, isu keterlibatan sejumlah oknum dalam proses operasional turut menjadi sorotan publik, meski hingga kini belum ada bukti resmi yang menguatkan dugaan tersebut.
Menanggapi hal ini, Putri selaku Koordinator SPPG MBG Kabupaten Dompu memberikan klarifikasi bahwa peristiwa robohnya atap bangunan dipicu oleh hujan disertai angin kencang yang terjadi pada pekan lalu.
Ia juga meluruskan informasi terkait korban jiwa. Menurutnya, korban yang meninggal dunia bukan merupakan pekerja atau relawan SPPG, melainkan seorang tukang yang dipekerjakan oleh pihak mitra untuk melakukan pekerjaan renovasi.
"Korban bukan bagian dari relawan atau karyawan SPPG. Ia adalah tukang yang disewa oleh mitra untuk melakukan perbaikan bangunan. Jadi tidak ada keterkaitan langsung dengan BGN,” jelasnya pada media ini saat di konfirmasi melalui via WhatsApp pribadinya siang tadi sekitar pukul 12:06 Wita.
Lebih lanjut disampaikan, pihak mitra telah mendatangi rumah duka dan melakukan komunikasi langsung dengan keluarga korban sebagai bentuk tanggung jawab.
Terkait aspek keselamatan kerja, pihak koordinator menegaskan bahwa tenaga tukang atau pekerja renovasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab mitra, bukan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai institusi yang menaungi program tersebut.
"BGN tidak mengakomodir tenaga tukang atau pekerja renovasi. Itu sepenuhnya tanggung jawab mitra,” tegasnya.
Sementara itu, aktivitas operasional SPPG untuk sementara dihentikan selama proses perbaikan berlangsung.
Dampaknya, insentif bagi SPPG juga tidak dibayarkan karena masuk dalam kategori perbaikan berat.
Di sisi lain, ketika ditanya mengenai langkah pengawasan langsung pasca kejadian, koordinator mengaku belum turun ke lokasi karena sedang menjalani cuti melahirkan.
Pasang iklan di sini:
Meski demikian, ia mengklaim telah menginstruksikan koordinator kecamatan dan kepala SPPG setempat untuk melakukan pengecekan.
"Untuk sementara saya belum turun langsung karena cuti, namun sudah saya perintahkan jajaran di lapangan untuk melakukan pengecekan,” ujarnya.
Meski klarifikasi telah disampaikan, sejumlah pertanyaan publik masih belum terjawab secara tuntas.
Di antaranya terkait standar operasional prosedur (SOP) pembangunan dan kelayakan SPPG, mekanisme verifikasi sebelum operasional, hingga jaminan keselamatan bagi pekerja di lokasi.
Transparansi hasil investigasi dan evaluasi teknis dinilai penting untuk memastikan tidak ada kelalaian dalam proses pembangunan maupun pengawasan.
Hal ini sekaligus menjadi langkah krusial untuk memulihkan kepercayaan publik serta mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi lanjutan terkait hasil investigasi menyeluruh atas insiden tersebut.
Selain itu Ketua Satgas sppg MBG Kabupaten Dompu Khairul Insan Setda yang di konfirmasi melalui via WhatsApp pribadinya belum bisa di mintai keterangan karena dalam keadaan rapat.
"Saya lagi rapat belum bisa saya," jawabnya singkat Setda.(bf).
Bersambung......?
Komentar