![]() |
| Foto Sejumlah Ternak serta Bukti Dugaan Kejahatan RF Tipu Daya Para Korban yang ada. |
Bidikinfonews.com | Dompu, NTB – Dugaan praktik penipuan berkedok kelompok tani kembali mencuat di Kabupaten Dompu. Kelompok Tani Milla Maju” kini menjadi perhatian publik setelah sejumlah anggotanya mengaku mengalami kerugian materi hingga merasa dibohongi oleh oknum pengurus kelompok.
Sejumlah anggota Kelompok Tani Milla Maju yang ditemui media ini Selasa (26/05/26). mengungkapkan, dalam beberapa hari terakhir oknum ketua dan bendahara kelompok kembali mendatangi anggota secara diam-diam untuk meminta KTP dan tanda tangan.
Baca Juga:rf poktan milla maju diduga kuat tipu
Menurut pengakuan anggota, permintaan tersebut disampaikan langsung oleh bendahara kelompok berinisial RF dengan alasan untuk mempercepat proses pencairan bantuan kelompok tani.
"RF datang meminta KTP dan tanda tangan kami. Katanya itu syarat agar dana bantuan kelompok bisa segera dicairkan,” ungkap Dian, salah seorang anggota kelompok tani.
Tidak hanya itu, para anggota juga mengaku pernah dimintai sejumlah uang dengan nominal bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. "Semua anggota dimintai uang.
Alasannya untuk pembuatan kandang ternak, biaya perjalanan ke Mataram, dan untuk memuluskan proses kegiatan serta pencairan bantuan,” ujar salah satu anggota lainnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, para anggota mulai merasa ada kejanggalan dalam pelaksanaan program tersebut.
Dugaan semakin menguat setelah puluhan ekor ternak sapi yang sebelumnya dibagikan kepada anggota justru diambil kembali oleh pihak pengusaha ternak.
Menurut keterangan anggota, ternak tersebut ditarik kembali karena pihak pengurus Kelompok Tani Milla Maju diduga belum melunasi pembayaran kepada pengusaha ternak.
"Kami merasa dibohongi dan dipermainkan. Sapi yang sudah kami pelihara selama tiga sampai empat bulan tiba-tiba diambil kembali. Kami sudah keluarkan tenaga dan biaya,” ungkap anggota lainnya dengan nada kecewa.
Pasang iklan disini :
Peristiwa itu memicu kekecewaan mendalam di kalangan anggota yang merasa hanya dijadikan alat dalam program yang dinilai tidak jelas arah dan pertanggungjawabannya.
Selain menyoroti pengurus kelompok tani, para anggota juga mempertanyakan sejauh mana keterlibatan pihak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Dompu dalam persoalan tersebut.
"Selama ini ada pihak yang ikut meyakinkan kami untuk percaya kepada pengurus kelompok tani.
Kami minta semua pihak jangan main-main. Uang, tenaga bahkan harga diri kami ikut dikorbankan,” tegas salah satu anggota.
Menanggapi dugaan dan tudingan tersebut, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Dompu, Ilham ST, melalui Kabid Pakan, Sukarman S.Pt, yang dikonfirmasi media ini via WhatsApp pribadinya, mengaku belum mengetahui kejelasan anggaran Kelompok Tani Milla Maju.
"Sampai saat ini kami tidak mengetahui apakah dana untuk Kelompok Tani Milla Maju sudah cair atau belum.
Untuk detailnya, mungkin bisa langsung ditanyakan kepada pihak pengurus kelompok tani terkait,” terangnya.
Saat ditanya, sejauh mana keterlibatan pihak dinas pada
Saat ditanya, sejauh mana keterlibatan pihak dinas pada semua kelompok tani ternak, mulai dari pembentukan hingga validasi data administrasi kelompok yang mengajukan bantuan, Sukarman tidak dapat menjelaskan secara detail dan memilih untuk tidak menjawab.
"Salah satu contoh, misalnya kelompok tani ternak mengajukan proposal permohonan bantuan dana, baik di tingkat provinsi maupun pusat, penting sekali Poktan itu diverifikasi atau direkomendasi oleh dinas tingkat kabupaten,” ujar Sukarman.
Baca Juga :soal skandal pengadaan ternak mila maju
"Untuk data itu, sampai saat ini kami tidak mengetahuinya, dari mana Poktan Milla Maju mendapatkan data tersebut. Sementara, di dinas tidak ada data Poktan Milla Maju semacam RAB yang kami terima,” tutupnya.
Hingga berita ini diterbitkan, para pihak pengurus kelompok, ketua, sekretaris, dan bendahara berinisial RF dari Kelompok Tani Milla Maju belum bisa dihubungi dan ditemui untuk dimintai keterangan.
Namun, media ini akan terus berupaya untuk menemui dan menghubungi para pihak terkait guna mendapatkan keterangan resmi terkait dugaan tersebut. (Redaksi).
Komentar